Sunday, August 7, 2016

Every Seconds of You


you told me "dbhatever makes you happy" 
i said "what makes me happy is being with you"


     And she hugged and kissed me, right after i said that. then she touch my cheeks. after that she's walking into her house, well it was so confusing for me at the same time. on one point i felt so warm but on the different sides, she'll be going to someplace else for about two weeks. and then  right after i walk her home,s something crossed my mind, anything could happen in two weeks right? that's what i'm scared about. 
but in the meantime, i try my best for not blowing this up, i love her that's why i don't want to lose her, or even hurting her, no..no i'm not full of shit, when i said i loved her that means i really do love her, there's a lot of girl out there, but i ask you something, is it easy enough to find a needle inside the haystack?  .So i light up my cigarette and then walked alone to home, the streets was filled with harmony . God knows I love you, dearest Fidya. maybe you're one hour ahead of me, but our love never act in a wrong time.

sincerely,
your friendly ghost 

-Kops

Sunday, May 15, 2016

There will be a rainbow after the heavy rain

It's been a long time since i posted, anyway i just want to tell all of you about something that happened to me for this past two months. Many things occured, all about laughs, sad, blue, a foolish act, or even love. I'm chasing for something that don't even worth enough to fight. Like i was trying to swim to the side, but my feet got caught in the middle, and i'm spent all night stucks on the puzzle.
Eventually, i met this girl, we knew each other before, but we just met today for a reason. I've been searching from the bottom to the top, until i saw her face. I liked the way she smile, laugh, and angry in the same time. Something in her made me curious after all, it's been the first time i'm falling in love without looking my type, i can't explain or describe why i can falling in love with her. She hit my weak spot after all, doesn't care about what my reputation as a jerk, after all. Because in the end every jerk, will meet their liberator from their jerk and stupid behavior. So i'm very grateful today, she completed my puzzle, i used to be a lonsome walker in the lonsome road, a cowboy without his horse, and a general without the army. Turned my sky from black and white into the colorful rainbow.
I'll never gonna leave her, because girls like her it's like a needle in a haystack, maybe you can search for it, but it took a long time to find it. So, thank you for bring me back to life, fidya. If we happen to part, we met today for a reason.



Best regards


Your friendly ghost,
-Kops-



Thursday, January 21, 2016

Lonerism is not an act of crime!

It's been more than 7 months since i broke up with her. My life never been the same anymore, now. Already moved on, and i'm just like "geez girl, do what you fucking want but don't ever disturb me" and you know what happened? Bad things about me spreads informed that i'm just a god'damn playboy, pervert and some kind of jerk. Well fuck off, it makes trouble for looking for another girl. Yeah thanks a lot for the gossip that you're spreading across college. Even though i knew who's responsible for all of this .  Days by days, months by months, until 2015 has passed by, it's a golden year for me (even it has bad memories on it) so, i searching for the new meaning of life. For me, myself, and I. I traveled to many place, i took this lonsome road all by myself. Nobody can understand how deeply lonely i am. I'm a loner in fact since i was six years old, but this is madness, nobody can stay on this condition for a long time. I drink, and drink with my buddies, i'm not drunk. They said it was really an escape for all kind of problems, nah. I don't think so, i can't see the escape in that habit. My friends said that i was changing since that broke up, but that's bullshit. I'm not changed i'm just revealing my true self. I'm tired for hiding. My search for a new meaning of lifes, continue when i've met this girl. But i know since the beginning that girl like this can't promise you something. So i locked myself in my room, trying to understand. What the heck i should do with my life? I seldom to visit my friend, i'm not very talk active, i'm trying to reborn. My hairs grown longer, i'm not shaving my beard. I'm on meditation to something new! And it works kind of my stress has reduced i am happier, i could control my emotion and my temper' so here i am, a loner that doesn't known as a loner. 

Thursday, September 17, 2015

(article)





GO-JEK. Ancaman atau Penyelamat?
by : Tanoko Prawira






Belakangan ini sering kita lihat fenomena ojek yang bisa dipesan secara online entah itu Gojek ataupun Grabbike. Gak jarang juga kita lihat di berita sering ada tukang Gojek digebukin atau di intimidasi oleh tukang ojek pangkalan. Karena gue pribadi orangnya gak gampang percaya kalo gak liat buktinya langsung. Jadinya gue ngelakuin observasi di lapangan. Target operasi gue daerah sekitaran Kalibata yang notabene nya adalah "Red Zone" nya tukang gojek tapi sekaligus itu deket rumah gue. Jadi gue ngamatin di jam-jam sibuk, gue ngeliat tukang gojek lewat, ah gak diteriakin tuh, gak disetopin tuh jadi menurut gue berita yang beredar itu tapi sih pas gue liat di depan stasiun kalibata ada spanduk yang bertuliskan "GOJEK DILARANG CARI PENUMPANG DI SINI!! tertanda Ojek Pangkalan Stasiun Kalibata"

Pengamatan yang gue lakuin membuat gue makin penasaran. Jadi gue nyoba mesen gojek bareng temen gue tapi arah kita beda. Pas driver gue udah nyamperin gue, sebut aja namanya Mas Wahyudi. Gue pun melakukan beberapa wawancara singkat sambil ngobrol di Jalan. Gue bertanya ama dia apa emang bener kalo tukang gojek sering di intimidasi oleh ojek pangkalan.
"Ya saya sih gabisa nyalahin mereka mas karena mereka ada benernya juga, meskipun cara mereka itu salah ya ngelakuin tindakan anarkis kayak gitu" sahut Mas Wahyudi.
Gue pun bertanya lagi "emangnya kenapa mas? kalo saya kira sih mereka sirik gitu susah dapet pelanggan"
"Kalo saya lihat dari sudut pandang ojek pangkalan ya mas karna saya juga dulunya ojek pangkalan juga. Sebenernya mereka itu kesel apalagi gak semua tukang gojek mikirin itu mas, pasti kesel kan nunggu lama, tiba-tiba diserobot tukang Gojek, saya juga kesel sih kalo gitu"

Kata-kata Mas Wahyudi membuat gue tersadar kalo tukang ojek juga manusia. Mereka juga pengen ngerasainhidup sejahtera apalagi dengan munculnya tukang Gojek yang serba modern bikin mereka terancam akan eksistensi mereka. Lambat laun populasi ojek pangkalan bakalan keganti sama ojek yang modern. Dan itu yang mereka takutkan.
 Jadi kesimpulan yang bisa gue ambil dari hal ini adalah, kedua belah pihak salah. Satu dengan dengan peralatan modernnya terkadang tidak mempunyai sopan santun kepada sesamanya yang bisa dibilang "sesepuh" sementara dilain pihak, satu takut mereka bakal punah dan juga mereka gamau nyoba hal baru yang sebenernya lebih praktis dibandingkan cuman nunggu ber-jam-jam tanpa hasil yang pasti. Jadi bisa dibilang gojek ini adalah masa transisi, dimana gak semua hal yang dibikin  modern bakalan lancar-lancar aja. 

Wednesday, January 21, 2015



RADIO RUSAK
By : Tanoko Prawira



    Dipukul-pukul kotak itu, di utak-atik kabelnya. Hari memang masih subuh, tetapi Joko masih saja mencoba memperbaiki radio bapaknya yang rusak.
“Kak Joko, Kak Joko….lagi ngapain sih?” Tanya Irfan adik Joko
“Biasa dek, kemaren ini nyala kan, tapi kok hari ini gabisa dinyalain, maklum lah barang tua…” sahut Joko
“yah harusnya kakak beli radio yang baru dong, kan duit kita banyak, ngapain sih radio gembel masih aja dipake…emang gabosen apa masih diputer-puter gitu kalo nyari sinyal”
Joko secara acuh terus mengutak-atik radio tua bekas milik ayahnya itu tanpa menghiraukan adiknya yang bawel. Di matanya, adiknya terlihat hanya komat-kamit.
“Ah kak Joko diajak ngomong budeg amat, mending dedek mandi ah entar telat sekolah, hufft..” sahut Irfan sambil beranjak dan banting pintu kamar.
“yaudah sana mandi deh ah biar gak telat ke sekolah” jawab Joko datar.

   Joko memperhatikan radio itu, terlihat usang, rapuh, tetapi benda itu memiliki kenangan baginya yang tidak mungkin dia lupakan. Hal itu membuatnya melamun untuk beberapa saat sampai seketika dia mendengar suara dari arah dapur.
“Jok, mandi nak udah siang nih, nanti telat ke sekolah!!!” sahut suara itu
“Iya ma, bentar lagi tanggung lagi betulin barang” sahut Joko
Joko terus mengotak-atik radio itu, sampai akhirnya radio itu menyala lagi. Joko pun menyetel saluran favoritnya.
“nah udah bisa kan, taunya cuman kabel colokannya nih mulai kendor…” sahut Joko dalam hati
Joko menuju kamar mandi abis melihat adiknya sudah berdiri depan pintu kamarnya hanya memakai handuk.
****

Setelah menyantap sarapannya, Joko pun cium tangan kepada ibunya dan pamit
“Ma aku ke sekolah dulu ya…”
“iya Ko, nih duit bensinnya buat hari ini…” sahut ibunya sambil menyodorkan beberapa lembaran 20 ribuan.
“ Wah ma, gausah deh, masih ada kok sisa duit kemaren…lagian masih banyak bensinnya” jawab Joko sambil tersenyum.
“yaudah hati-hati ya nak, jangan pulang malem-malem…” sahut ibunya.

   Joko pun menyalakan motornya dan berangkat ke sekolah. Sepanjang perjalanan dia mencoba mengingat apa saja yang dia lakukan dengan bapaknya saat masih kecil. Jauh…sebelum adiknya Irfan  lahir. Joko ingat ketika dia dibelikan bapaknya mobil Remote Control yang dulu barang mewah buat anak-anak. Joko bingung kenapa sih dia gapunya Bapak, Dia pernah nanya ke Ibunya tapi Ibu Joko bilang bapaknya sudah wafat. Tiap Joko Tanya sebabnya Ibunya gapernah mau jawab. Kadang Joko iri sama anak-anak yang lain yang keluarganya lengkap.
  Sampai juga Joko disekolah, saat parkir motor dia disapa temen sekelasnya, Alfred.
“Wey…Joe tumben gadateng telat lo hahaha, ayolah ke kelas nyalin PR-nya Bu Endang, gue belom ngerjain nih!” sambil menepuk pundak Joko.
“Hah..? PR yang mana fred? Perasaan gaada PR deh…”
“yang dicatet di Papan tulis itu yang soal Statistika, hayoloh…udahlah nyontek aja” sahut Alfred dengan nada nyeleneh.
“OH IYA! ANJRIT GUE BELOMAN…AYOK BURUAN!!!!” sahut Joko dengan panik.

Mereka berdua ke kelas dengan terbata-bata.
***
  Bel istirahat pertama berbunyi. Murid-murid SMA keluar dari kelasnya dengan muka gembira, tidak se-gembira saat jam pelajaran.

“Eh Joe, ke kantin yok gue laper nih belom sarapan…” sahut Alfred.
“Yaudah ayok deh tapi ke toilet dulu ya gue pengen kencing nih…” jawab Joko
“Halah bilang aja biar lo lewatin kelasnya si Siska kan, hehehehe…” Sahut Alfred dengan muka minta ditonjok.
“Sembarangan lo, jangan suka gitu dong gaenak ama yang laen…entar gossip” jawab Joko dengan muka memerah.
Tanpa disadarin, saat dua cowok itu ngobrol di koridor…tiba-tiba sesosok cewek dengan rambut panjang yang tergerai lewat. Ternyata itu Siska, Cewek yang disukain Joko…tetapi sayangnya Joko kaku kalo deket cewek. Padahal reputasi Joko di sekolah termasuk yang bandel dan diseganin.
“Hai Joko….” Sapa siska dengan senyuman yang bikin cowok melting dan seketika khilaf.
“ehh…iya Sis walaikumsalam..” Jawab joko dengan salting.
“ih apasih…emangnya gue tukang jualan di Instagram lo panggil sis” sahut siska dengan canda.
“Tau..bego lo cewek cakep gini lo samain ama tukang jualan online” sahut Alfred.
“Lau Sokap sih? Gausah sok akrab deh ama gue” jawab Siska dengan ketus.
“Lah ka, lo cakep tapi mulutnya sadis….” Sahut Alfred dengan merengut.
“Hahaha becanda Fredo, jangan nangis ya…eh Jok, besok temenin gue yuk nyari buku hehe….” Jawab Siska.
“Hmm…gimana ya gue liat besok dulu deh…kayanya gabisa” jawab Joko dengan malu
“Ayok ka, mau jam berapa besok???” sahut Alfred dengan semangat.
“Kok lo yang nafsu sih fred? Tai kucing!” Jawab Joko.
“Tadi lo bilang gabisa, tolol….” Sahut Alfred sambil nyengir.
“Bisa kok besok, kabarin gue aja kalo jadi ya ka…” jawab Joko.
“Okedeh Joko, malem gue kabarin ya kalo jadiii hehehe…” sahut Siska.
Kedua cowok itu pun jalan ke kantin. Sementara Siska kearah toilet.

***
   Joko sampai dirumah dengan tubuh penuh dengan bau asap rokok. Joko sebenarnya bukan seorang perokok aktif yang tiap hari mesti ngerokok saking kecanduannya sampe mukanya harus dipajang di billboard iklan rokok bareng gambar tengkorak pake tulisan “Merokok Membunuhmu” tapi kadang ada kalanya Joko ngerokok kalo lagi ada beban pikiran. Sementara temen-temen tongkrongannya perokok aktif semua. Sampai di kamar Joko tiduran di kasurnya dan nyalain AC, Joko melihat sekeliling kamar dan melihat ada yang ganjil. RADIO BUTUT MILIK BAPAKNYA GAADA DI MEJA KOMPUTERNYA!
 “Maaa,…Radio bekas Papa yang ada dikamar Joko ada dimana ya?!!!”
“ada disini Ko, Mama bingung ini radio rusak kok bisa kamu betulin lagi “ sahut ibunya.
“Oh yaudah, balikin dong ke kamar Joko..”
Ibunya pun menghampirinya dari ruang tamu.
“Aduh…apaan nih kamu bau rokok semua ckckckck…udah kayak apaan aja, cepetan mandi Ko, Mama gasuka ya dikasi duit jajan cuman buat ngisep racun doang! Cari duit sendiri sana deh, Buka reparasi elektronik kek, cocok…radio butut aja bener lagi” teriak ibu joko dengan penuh tensi.
“Apaan sih ma, yang ngerokok temen, bukan Joko…lagian Joko juga minta ama temen kalo ngerokok, gapake duit jajan” jawab Joko dengan reseknya.
“Tetep aja kamu ngerokok, udah ngisep racun pake minta lagi gamodal amat!”
“iya iya deh ah bawel…” sahut Joko yang menuju ke kamar mandi.

Di kamar mandi Joko sejenak berpikir, Sebenernya gapantes emang dia ngomong gak sopan gitu ke ibunya. Cuman kadang Joko suka kesel sendiri gasalah apa-apa tapi dinyolotin. Tapi di pikirannya dia gacuman soal kata-kata ibunya yang dipikirin. Tapi dia juga mikirin Siska, kok cakep banget.

***
 Malamnya, Joko nyetel lagu metal pake suara gede di kamarnya sambil jingkrak-jingkrak. Keributan itu memancing Ibunya yang sedang mengaji di ruang tengah rumahnya.
“Masya Allah Joko….malem jumat ini malem pengajian, nyetel lagu setan…” sahut ibunya menasehati.
“Apaan sih ma, Malem jumat mah sunnah rasul bukan ngaji, udahlah ngaji pake headset aja sana biar gak keberisikan”
“Kebalik, ada juga kamu yang make headset…bukannya belajar malah males-malesan, matiin Ko, kasian adek kamu lagi ngapalin doa mau makan” jawab Ibu joko dengan sabar.
“Yaelah kayak kepake aja tuh doa, entar juga kalo udah gede makan gabaca bismillah” jawab Joko dengan sarkastik.
“Udahlah capek mama ngasi tau kamu, mending kamu solat isya deh terus tidur”
“besok sekolah libur ma, gurunya rapat….” Jawab Joko.
“yaudah atur deh seenak kamu” jawab Ibu sambil melengos.
Tiba-tiba Hape Joko bordering, menunjukan notif chatdari seseorang. Joko pun mengambil hape nya dan mengecek siapa yang mengirim.
“WOY JOE, BESOK JADI JALAN GAK NIH? GUE NGAJAK SIHAB YA” ternyata cuman chat dari Alfred. Joko males, dia kira chat yang barusan masuk dari Siska. Enggak lama hapenya bunyi lagi dan nunjukin chat sengan pesan :
“JOKO…BESOK JADI KAN TEMENIN GUE NYARI BUKU, HEHE…GUE TUNGGU JAM 8 PAGI YAA
:D”
Tanpa sadar Joko loncat-loncat di kasurnya sambil teriak. Ya sebelas dua belas lah ama orang yang kesurupan di acara uji nyali. Joko nyoba tidur, tapi kayaknya susah banget dia tidur, bolak-balik Joko buka hapenya dan liat chat dari Siska, tapi Joko gabales chatnya.
***
Besok paginya, Joko lagi starter motornya, ibunya ke teras rumah dan bertanya
“Loh, tumben libur bangun pagi, mau kemana sih?” sahut Ibu bingung.
“anu…ma…mau nemenin Alfred nyari burung di pasar ikan…” jawab Joko dengan asbun.
“hah? Nyari burung di pasar ikan, Joko kamu make narkoba ya?” jawab Ibu.
“enggak kok ma, maksudnya nyari sarapan di daerah Menteng…hehe”  sahut joko nyengir.
“oh yaudah mama nanti jam 11an mau jalan ya, biasa lah urusan kantor…” jawab Ibu.

Joko pun melesat dengan kencang ibarat maling jemuran kepergok warga. Saking enggak mau nya telat akan permintaan gadis pujaan. Padahal baru jam setengah tujuh pagi, sementara janjinya jam 8 pagi. Sampai di rumah Siska Joko membuka hape dan ngechat Siska dengan sok datar.
“SISKA, GUE UDAH DEPAN GERBANG LO NIH”
“HAH? KAN JAM 8 PAGI JOKO, SEKARANG MASIH JAM 6 GUE BARU BANGUN -__-“ jawab siska.
“OH IYA YA GUE LUPA…SIS” jawab Joko tengsin.
“YAUDAH LO MASUK DULU DEH YA KERUMAH, GUE MANDI DULU JOK” jawab siska
Joko mengetuk gerbang sambil teriak asalamualaikum walaikumsalam. Sesosok bapak-bapak bertubuh kekar dan berkumis keluar dari pintu garasi dan menuju gerbang.
“Siapa ya ada perlu apa ketok-ketok gerbang?” sahut bapak-bapak itu.
“eh…iya om, Siska nya ada gak? Kemaren katanya minta anterin ke toko buku..” jawab Joko
“Ada di kamarnya, ayo masuk dulu saja tunggu di ruang tamu!” dengan ketus.
“siap komandan! Eh om….” Jawab joko kaget.

Joko pun masuk ke ruang tamu dan duduk di sofa. Dia tanpa sengaja melihat radio tua…hampir mirip seperti punya Bapaknya dulu. Lalu dia memegang radio itu sambil mengamati.
“Radio sudah rusak itu, dari jaman saya masih berpangkat Mayor….padahal itu kesayangan saya” sahut Bapak-Bapak itu nyamber.
“eh iya om, maaf gatau nihhh” jawab Joko kaget dan langsung meletakan radio itu.
“Kamu kayaknya tertarik sama barang antik ya?” sahut Bapak-bapak bingung.
“Bukannya begitu om, Bapak saya punya yang mirip  kayak gini, boleh saya utak atik gak om, siapa tau bener…” Jawab Joko menjelaskan.
“Coba aja asal jangan kayak di Film Warkop aja jadi meledak” sahut Bapak-Bapak ngelawak.
Joko pun membongkar radio itu, dilihat ternyata permasalahannya sepele, Kabel colokannya meleleh dan harus diganti.
“nih om, kabelnya tuh kebakar, ganti aja yang baru..pasti karna konslet nih” Sahut Joko sotoy.
“Mana coba liat, oh iya bener juga kamu….hmm nanti deh kalo sempet” Jawab Bapak-Bapak dengan senang.
Tidak lama Siska keluar dari pintu kamarnya dengan rambut masih basah. Joko memandanginya sambil melongo.
“Joko kenalin nih bokap gue, tentara loh awas disetrap” sahut Siska
“Oh iya udah kenal kok ka hehehe…” jawab Joko.
“Kamu kalau mau ngelamar anak saya minimal pangkatnya letnan satu ya” sahut Bapak Siska
“ih, Papa apaan sih… gajelas” sahut siska bête.
“Mau jalan sekarang sis, apa entar aja?” jawab Joko.
“Sekarang aja deh ah belom buka palingan toko buku”  jawab siska masih bête.
“Yaudah deh Om pamit dulu yaa…” sahut Joko sambil cium tangan ke Bapaknya Siska.
“jangan malem-malem pulangnya, awas pulang malem om lempar pake sepatu dinas” Jawab Bapak Siska.
“Enggak kok om tenang aja, saya juga gaberani lama-lama ama Siska takut salting....”
“Udah pa, icha jalan dulu ya” sahut Siska.
“haha icha….ADUH!!!” Joko dicubit oleh Siska.
“kenapa emang? Aneh panggilannya? Gasuka?” jawab Siska makin bête.

Mereka pun berangkat ke toko buku yang dimaksud. Pas nyampe tiba-tiba hape Joko bunyi ada yang telpon. Joko bergegas mengangkatnya, ternyata dari ibunya Joko.
“Hallo…kenapa ma?”
“Ko, ini ada temen kamu si Alfred sama Sihab, daritadi jongkok depan pager rumah katanya nungguin kamu, gimana katanya nyari makan ama Alfred…” jawab ibu.
“Aduh lupa ditelpon, yaudah bilang aja ma suruh nyusul ke Toko Buku antik di jalan Kwitang” sahut Joko.
“ngapain kamu nyari buku antik? Tumben baca buku…” Jawab ibu bingung.
“Nyari buku santet, udah ya lagi sibuk nih” jawab Joko sambil nutup telpon.
“Siapa yang nelpon, Joe?” Tanya Siska.
“Ini ka…calon mertua lo…EH maksudnya nyokap gue…” Jawab Joko keceplosan.
“ah najong abis, iyuwh!” jawab siska dengan pipi memerah (bukan karna make blas on tapi karna malu)
Gak lama, Alfred dateng dengan membonceng Sihab.
“Cielah kenyang nih ditinggal berdua doing hahahaha” sahut Sihab.
“Kemaren sih bilangnya ogah pas diajak, eh sekarang paling tepat waktu hahaha” tambah Alfred.
“Apasih Fredo, Sihab…jijik gue ama Joko, liat aja kumisnya ih kayak lele” jawab Siska
“awas entar ada yang ngambek lohh ngomong gitu” sahut Alfred.

Mereka berempat pun nyari Buku. Gak kerasa waktu begitu cepat berlalu, nyari buku bekas juga lama, soalnya banyak buku bagus tapi harganya miring. Kualitasnya jangan ditanya, ya barang bekas gimana sih kualitasnya au penulis juga bingung. Setelah lama berkutat dengan pencarian buku, dan makan siang. Joko pun mengantar Siska pulang. Sesampainya di gerbang rumah Siska, tiba-tiba Siska ngomong :
“Eh jok, besok-besok manggil gue icha aja yaa…” sahut siska dengan manja.
“Iyadeh biar gak salah sebut hehehe” jawab Joko salting.
“Makasih ya Jok buat hari ini, kapan-kapan nonton film ya…” sahut siska
“eh boleh…boleh…sis…eh…cha” jawab Joko makin salting.
“Jangan kegeeran jadi cowok dong, karna lo udah nganterin gue hari ini, besok-besok gue temenin kalo mau jalan” sahut Siska ketus.
“Iya iya enggak kok cha, yaudah gue pulang dulu ya..titip salam ke komandan, eh Bokap lo” jawab Joko.
“Hati-hati ya Jok…kabarin kalo udah sampe heheh” jawab Siska caper.
“jangan kegenitan jadi cewek, entar lo bilang gue kegeeran” sahut Joko balikin.
“Anjrit ini orang, gue dibales…gangerti basa-basi apa?”
“yaudah deh ah gue cabut dulu, capek gue seharian gemeteran deket lo” sahut Joko.
“Emangnya gue alat pijet?” jawab Siska. Tapi Joko udah keburu kabur.
***
     Sampai dirumah Joko ke kamar terus nyetel lagu, kali ini yang disetel bukan lagu metal, tapi lagu cinta. Ibunya baru pulang dari kantor kaget ngeliat anaknya 180 derajat berubah. Biasanya kayak anjing rabies, sekarang jadi jinak. Senyum-senyum sendiri pula. Tapi Ibunya tau kalo Joko lagi jatuh cinta, makanya dibiarin aja anaknya. Joko pun tenggelam didalam bayang-bayang seorang Siska dengan rambut panjangnya. Joko mencoba mengingat wanginya, senyumnya, muka bête-nya, bibirnya, giginya, organ tubuhnya…oke Joko bukanlah seorang sindikat penjualan organ.  Joko pun buka hapenya dan chat Siska, bilang kalo dia udah nyampe. Tapi karena udah keburu kecapekan, dia ketiduran.
     Besok paginya, Ibunya lagi ada diruang tengah sambil baca buku album. Joko penasaran ngeliat album apa yang dibaca ibunya.
“Ma, lagi baca buku apaan?” Tanya Joko
“ini, album keluarga…lagi bongkar lemari, eh nemu ginian” jawab Ibu.
Joko memperhatikan dengan seksama, ada foto dia, Ibunya dan Bapaknya. Sementara Adiknya Irfan jelas-jelas belom ada di foto itu karena emang belom lahir. Diliat Bapaknya Joko orangnya rapih, pokoknya dandanannya keren banget deh buat jamannya.
“Ma, Papa tuh meninggalnya kenapa sih?” Joko nanya lagi.
“………” Ibunya diam.
“Ma, Joko nanya…Papa meninggalnya kenapa sih?” Joko ngegas.
“Udahlah Joko kamu sarapan dulu sana udah disiapin ama pembantu, entar keburu dingin..” jawab Ibu mengalihkan.
“Kenapa sih Ma, tiap Joko nanya soal itu, pasti gamau jawab?” Joko makin ngegas.
“………” Ibu Joko cuman menghela napas.
“Kok cuman diem? Berasa lagi ngomong ama patung…” sahut Joko.
“Sebenernya, Papa kamu belum meninggal, Ko…” jawab Ibu.
“Lah kok mama baru bilang sekarang sih? Kenapa bilang udah meninggal? Kan kalo kayak gini Joko mungkin aja masih bisa ketemu kan!” sahut Joko sambil meneteskan air mata.
“Papa kamu itu pengusaha Joko, dulu waktu kamu masih kecil,Irfan juga masih di kandungan, kita sekeluarga masih belum kaya, masih melarat…dia malah meninggalkan kita,pergi ke Riau alasannya ada proyek, tapi Mama gapernah dikirimin uang ataupun kabar….pas balik ke Jakarta dia udah punya istri baru…Bapak kamu itu bajingan Joko…” jawab Ibu sambil nangis.
Joko jongkok di lantai, sambil nangis tapi nahan.
“Mama sampai bela-belain dulu kerja jadi SPG, buat biaya-in kuliah biar bisa dapet pekerjaan bagus, tapi papa kamu boro-boro nemuin mama, telpon aja enggak padahal waktu itu kan Irfan baru aja lahir, kebayang dong repotnya ngurusin anak satu SD satu bayi, sambil kuliah?? Alhamdulilah sekarang kita hidup berkecukupan, gak kayak dulu, malah bisa dibilang kita kaya kalo di banding dulu, sekarang Bapak kamu katanya tinggal di Singapore” sahut Ibu.
Joko tiba-tiba ke kamar, make Jaket hitamnya dan ke garasi, dia nyalain motor dan pergi gapake pamit ke ibunya. Ibunya memahami kalo Joko lagi kesel makanya dibiarin aja Joko pergi. Joko, berhenti di jembatan, dia marker motor….duduk di pinggiran jembatan. Sambil melamun kesel, dinyalakannya rokok. Joko ngisep rokok sambil ngeliatin burung di langit. Pikirnya enak kali ya jadi burung, bebas tinggal terbang kesana kemari gak harus mikirin masalah yang kayak aliran sungai, dateng terus gapernah berhenti. Tiba-tiba hapenya bunyi nunjukin notif chat dari Siska :
“JOKO, SEMALEM GUE KETIDURAN NIH, BARU BACA CHAT LO HEHE MAAF YA….ENTAR MALEM KAN MALEM MINGGU, GIMANA KALO KITA NONTON AJA? TAPI JANGAN AJAK YANG LAIN…”
“AYO DEH CHA, KEBETULAN GUE LAGI BETE….LAGI BANYAK MASALAH, GUE JEMPUT APA GIMANA NIH?” jawab Joko.
“KENAPA SIH? CERITA DONG SIAPA TAU GUE BISA BANTU, JEMPUT LAH…COWOK APAAN SIH LO” jawab Siska.
“IYADEH NANTI KALO SEMPET GUE CERITA, MANJA AMAT SIH LO JADI CEWEK” jawab Joko.
“IH JUTEKAN LO DARIPADA CEWEK, TEGA BANGET SIH JOK :(“
“LAGIAN GUE MAU PERGI DULU CHA…” jawab Joko.
“MAU KEMANA? KATANYA TADI MAU NONTON, GIMANA SIH” jawab siska ketus.
“KE HATIMU <3 HAHAHAHA” jawab joko gombal.
“OH” Siska cuman jawab Oh.
Pikir Joko, kayaknya siska udah bête dijawab kayak gitu chat-nya, tapi gak lama hapenya bunyi lagi…
“TAPI JANGAN LAMA-LAMA YA DI HATIKU, NANTI AKU SUSAH MOVE ON ;D” jawab lagi siska dengan penuh kegenitan.
“LU ATUR DEH SEBRENGSEK OTAK LO” jawab Joko
“IH KASAR AMAT SIH, GAMAU TAHU JEMPUT ENTAR, PERASAAN LO KEMAREN SALTING TERUS AMA GUE SEKARANG UDAH BERANI GOMBAL” jawab Siska.
“ITU KAN KEMAREN…CHA :)”
   Joko memasukan hapenya kembali ke kantong celana, dan menyalakan motornya sambil tersenyum. Emang mungkin hidupnya gak lengkap kayak anak-anak lain yang ibu bapaknya masih akur, tapi kalo dipikir-pikir hidupnya berkecukupan masih bisa jalan sana-sini, masih bisa makan enak. Gapapa Joko punya Bapak tapi berasa gapunya Bapak selama masih punya orang-orang yang setia ngisi kehidupannya. Masih punya temen yang setia, masih punya Ibu yang biarpun sibuk tapi masih bisa mahamin Joko, masih punya Adek yang bawel, dan yang pasti masih punya Siska, yang entah kenapa bikin Joko gak kaku lagi ama cewek.

Sekarang cuman Joko ama Motornya, dan burung-burung di langit yang bebas terbang kesana kemari.


-Kops-
Capek tau kuliah

Thursday, April 24, 2014

Dokumentasi Singapore (pt.2)



     

    Hello again, gue mau ceritain nih perjalanan gue yang kedua di Negara Singa muntah aer (baca : Singapore) padahal sebenernya gue mintanya ke Hong Kong tapi dikasinya kesini. Yaudahlahya kalo kata anak sekarang yang penting gue Mudik.

    Gue disana sekitar tiga hari, dan udah merasa betah, di kali yang kedua ini gue merasa lebih betah karna jalan sesuai kemauan sendiri, gakayak pas pertama kali gue dipaksa ikutan rombongan tante gue. Masa ke Singapore cuma buat belanja, belanja mah di Senayan City aja banyak diskon ngapain jauh-jauh nyebrang pulau. Kriteria pendorong gue dalam pergi ke negara orang tuh ada empat, yaitu :

1.Situs Sejarahnya atau Museum nya
2. Kebudayaan aslinya
3.Kulinernya
4.Transportasinya

Sayangnya dari keempat kriteria itu menurut gue Singapore gapunya kebudayaan asli, yaiyalah orangnya Multi etnis pendatang semua.

 Anyhow, pas gue kembali menginjak lantai bandara changi pas lagi adegan pemeriksaan imigrasi masa cuman gue yang lama meriksanya. Passport gue dibolak-balik, abang imigrasinya gapercaya akan muka gue. (karna gue tau gue gantengan sekarang daripada dulu)






 *ket : Selfie pertama gue di negeri orang








   Singkat kata gue langsung menuju ke hotel gue menggunakan MRT (Mass Rapid Transportation) yakalo disini emang belom punya ya, disini adanya kereta Commuter Line yang suka ngaret. Bis disono juga bagus-bagaus gak kayak disini nih, 62 yg biasa gue pake buat pulang sekolah bodinya udah keropos terus sopirnya senantiasa ngerokok Rokok kretek pula eh tembakau nya nyangkut di gigi pas nyengir. Kok jadi melenceng amat yak.



MRT yang gue naekin lagi kosong hari itu, maklum lah hari libur pas siang, Orang Singapore juga males jalan-jalan siang panas soalnya.
 Turun dari MRT gue turun di stasiun Kallang, dari situ gue mesti jalan ke hotel gue di Geylang Road (bukan Serangoon Road ye) Dijalanan itu panas banget, ya sama lah kalo lagi liburan di Bangka Belitung panasnya kayak apaan.

gue gatau itu apaan artinya, mama minta pulsa                                  mungkin

        Sesampainya gue di Hotel, gue kayak bocah yang baru pertama kali liat keluar jendela....Suasananya kalo dari jendela kamar gue kayak di Semarang *Loh* abis pas gue dapet daerah yang banyak cinanya. Meskipun tukang minimarket disini India semua isinya. hehehe btw orang India disini baik-baik loh asal lo doyan aja makanannya kayak Nasi Briyani atau Roti prata.


 Abis sholat zuhur dan istirahat sejenak gue pun tidur-tiduran di kamar hotel sambil nonton pelm India. Abis itu gue jalan lagi dan kearah Orchard Road....hehehehe
  Orchard Road, ibarat daerah pusatnya Mall di  Singapore, gimana enggak sederetan isinya Mall semua, nah sebenernya gue kesini tuh buat nyari es krim doang yang harganya satu dollar. 




Wedew es krim ginian doang ngantrinya ampe kayak nonton film The Raid 2 berandal pas tayang perdana di Bioskop, panjang amat. Yang jual dong liat mukenye mirip yang di daerah Glodok hehehe

(Bersambung ke part 3)